Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Februari 2015 4 komentar

Selamat Sore Sayang



Selamat Sore…Sayang

Kenapa Selamat Sore? Hmm mungkin walaupun aku mengucapkan selamat pagi, akan sama saja rasanya. Karena tulisan ini kubuat sengaja agar tak berbatas waktu. Tapi sudahlah aku tak mau terjebak dengan kata pembuka.

Ini merupakan surat cintaku yang kesekian mungkin juga bisa dibilang sekuel dari seri surat cinta sebelumnya, setahun yang lalu. Tentu saja dengan niat, harap dan tekanan perasaan yang berbeda. Ingat? Hehe… menenangkan karena aku sudah tau balasannya. Tapi sudahlah aku pun tak mau terjebak dengan nostalgia lama.

Cukup kaget saat kau bertanya mengapa aku tak menulis surat cinta lagi untukmu, dan cukup menyenangkan pula aku ada alasan kembali untuk menulis. Jadi agar tak dibilang buruh tulis surat cinta pesanan, aku sebut saja surat ini surat cinta pesanan berdasarkan perasaan. Aku mungkin  lebih tepat dpanggil buruh tulis yang selalu telat menulis, tapi aku yakin pak pos kring kriing tak keberatan mengantarkan segenggam surat dan secarik perasaan ini, padamu.

Maaf aku tak lihai kembali menata alur, membuat jalur terukur akar kau tak sulit memaknai setiap kata dan maksud hati yang terkabur. Mungkin akan lebih mudah jika kamu ada di depan , memandang, kemudian aku menggambarkan betapa waktu tak membuat wajahmu layu, betapa umur tak membuat senyummu berjamur dan betapa usia tak mampu membuat tatapmu kehilangan kedalamannya.

Sangat lucu, karena nyatanya baru 2 tahun kita bersama, namun kata-kata barusan menyiratkan sesuatu yang telah berlangsung begitu lama. Tapi tak apalah, cinta butuh sedikit lebai agar tak melambai, lunglai. Lagi pula itu juga merupakan pandanganku ke depan, sedikit visioner, menentukan arah, karena kita akan berlayar ke entah berantah J

Yap, kuharap kau akan siap… ngg tidak… maksudku kita akan siap. Siap di titik yang bahkan awal saja belum, sekarang. Iya, sekarang ini adalah masa mengumpulkan bekal, membulatkan niat, serta menyiapkan segala keperluan berlayar. Ku harap kau sabar, ku doakan kau tetap semangat, untuk taat dan tetap berada di jalur selamat.

Dan pada akhirnya, (iya sebentar lagi kita akan tau akhir surat ini *yeay) lelaki yag kau bilang lebai ini akan serius dan tegas. Yah aku serius ingin menjaga hungungan ini tetap terus dan terurus, lurus. Aku tegas ingin jalani hubungan ini bersamamu, bersamamu dan hanya bersamamu, seorang wanita yang nama dan wajahnya selalu terlintas.

--Dariku sang buruh tulis surat cinta. Untukmu sang tercinta, Erma…
Tangerang, 2015
Kamis, 06 Februari 2014 0 komentar

Rumah

Kepada hujan,

jatuhlah perlahan. Aku tahu perjalananmu menyebalkan
harus terusir dari tempat nyaman disana, di negeri awan.
Kumohon jatuhlah perlahan, melunaklah pada genting ku
yang lapuk kebasahan.

Kepada genting,

kokohlah menahan. Buktikan pekerjaanmu yang telah menahun.
Ini hanya air, bukan batu yang sering mendarat, mengalun.
Meninggalkan bekas lubang, seperti fomasi lampu yang anggun.

Kepada lubang,

jadilah tempat masuk yang aman bagi hujan. Berikan kenyamanan,
walaupun ku tau tepianmu begitu tajam. Tak perlu jadi tujuan,
karena tugas besarpun bisa berupa sebuah jalan. Tuntunlah
air ini menuju kuali besar di bawah sana, kawan.

Kepada kuali,

maaf kau harus menggantikan tugas ember lagi. Aku tau kau
tak keberatan, tapi... jujur saja kau lebih baik dari dia.
Tetaplah menjadi nada ke-8 Orkestra pengantar tidur anak-anakku.
Berdamailah dengan lantai yang dingin, kaku.

Kepada lantai,

santailah. Jangan kaku dan jangan dingin seperti itu. Kumohon
jangan hanya karena hujan kau membeku. Kasihanilah anak-anakku,
menghangatlah buang niatmu menjadi anomali. Jadilah penghangat ruangan
yang tak mampu ku beli.

Tangerang, 2014
Selasa, 04 Februari 2014 0 komentar

Hari Ini, Hari Baru, Hari Rabu

Teruntuk kamu,

Hari ini hari rabu dear, harusnya ini surat ke-5 di bulan ini yang aku tulis untukmu. Namun hati, kepala dan jari sedang sok sibuk sendiri-sendiri. Tapi entah kenapa pagi ini mereka berdamai kembali, jadilah hari ini kutulis surat ini.

Kusempatkan menulis surat untukmu meski bukan hari minggu. Mungkin bila ini hari minggu, aku sudah berjalan-jalan naik delman, naik di muka Pak Kusir mirip lagu jaman kita kecil. Ahh fokusku terbuyarkan lagi. Sebentar ada yang ingin ku utarakan, tapi entah mengapa pikiranku mengarahkan ke selatan. Tapi sudahlah lebih baik kita mengobrol ringan dulu sambil menunggu hajat yang akan ku panjat, untukmu.

Apa kau baik saja dear? Sudah beberapa hari ini kau telan dalam-dalam sesuatu yang keras seperti batu sehingga tak ada lagi keluar suara merdu dari mulut mungilmu, yang ada kau membisu. Apa karena celotehku itu? celoteh anak kecil yang meminta tuhan membelikannya eskrim? polos tapi sepertinya membuat semua monster menakutkan di mulut ini lolos menuju hatimu..los, begitu saja. Tapi ini tak sesederhana itu kan? Aku tau, makanya kutulis surat ini sebagai tebus dari pedang kata yang keburu terhunus. Aku minta maaf, atau kali ini aku menyewanya saja? Atau harus aku beli? Kalau begitu aku harap aku diperbolehkan membayarnya dengan mata uang universal saja -- pelukan dan kecupan. Yaahhh.. dengan selipan coklat dan bunga mawar tentunya. kamu mau kan?.

Oh iya, tentang niat mengutarakan tadi.. Ngggg.. Anu.. Aku belum selesai membaca novel mu yang aku pinjam seminggu lalu. jadi mungkin akan jadi lebih telat dari tenggat. Tak apa yah? toh tak akan berkurang kata dalam novel ini karena aku telat membuka lembar demi lembar melembur.

Sebelum ku tutup surat ini yang sebenarnya tidak benar ku buka, karena yang membuka adalah kamu, aku mengingatkan mu lagi lagi : "Maafkan aku atas celotehku yang suka neloyor sendiri, seperti orang yang berjalan tidur sambil berdiri. Kuharap suatu hari nanti kamu dapat mencegahnya berbuat onar dengan sengatan bibirmu dipipi"

Aku yang sengaja menulis surat, membayar kifarat.
-dika

Tangerang, 2014

-----------------------------------------------*--------------------------------------------------
Terimakasih sudah membaca  surat dariku. Tak kusangka petugas pos begitu cepat dalam bekerja. Terimakasih juga sudah membalas walaupun dengan sedikit nada malas tanpa belas, namun ya... Terimakasih ini lebih dari yang kuharapkan, dimana surat ini tak salah alamat -- sampai tujuan.
 
;