auramu telah terlebih dahulu menghamili kepala.
Ngawur ngelantur bibirku igaukan kamu nduk
gugurkan kewajiban dari rindu yang minta diaduk.
Usah kau gamang, ini bukan elegi mu. jadi...
nina bobokan aku lagi
Tangerang,2013
-------------------------
*catatan : Spontan dan begitu saja...
puisi adalah kata bergerak, yang laju
dan lakunya harmonis. hampir tidak mungkin ia lepas
dari spontanitas. Hal yang diasingkan oleh aku, oleh
kami akhir-akhir ini. Kami lebih memilih kata yang
berhias rumit, memilih kata sulit agar terlihat
cantik. Bukan untuk dilihat namun untuk menjadi renungan
dalam parit-parit jiwa. Sebenarnya kejujuran, spontanitas
adalah kecantikan itu sendiri. Yang membuatnya cantik
anggun apa adanya. Kembalikan lagi hakikat puisi yang hakiki.
Spontanitas sebenarnya hampir-hampir tidak ada. Karena
semuanya sudah ada yang ngatur, sudah ada sek ngurusi.
Termasuk bait di atas, sebenarnya tidak benar benar spontan.
Semua sudah direncanakan. Hanya saja tertutup, atau sengaja
ditutupi. Seperti "bacalah hanya huruf pertama tiap baris secara
menurun". Kamu akan ngeh bahwa tidak ada yang benar-benar spontan
Semua diatur, semua ada sek ngurusi.
adalah semilir yang sama yang berbisik dikepalamu?"
Jutaan duga memenuhi lekuk otak keriputku
bagi orang tua ini, memikirkan demikian begitu 'jeleh'.
Tak terhitung lagi pembenaran yang menunggu
diberikan persetujuan pikiran. Menunggu logika
yang berteriak bak cheerleaders kegirangan.
Nelangsa pencinta rahasia begitu masyhur di telinga
pun perindu yang lakunya hanya membuat tambah luka.
Mulut yang bisu seperti sedang berpikir
kepala yang gaduh penuh gengsi yang riuh
seperti merek dagang yang tak boleh diganggu-gugat
Kadang aku 'cumpleng' fungsi tiap organku
Tangan yang berpikir bagaimana rasanya merengkuhmu
Tubuh yang berimaji bagaimana rasanya menjaketkan-tubuhmu
Bibir yang berangan bagaimana jadinya bila parkir dikeningmu
Hati yang bersimpati menampung luber meler cintamu
Akulah pencipta setiap rindu dan luka
Pencipta setiap harap kemudian membunuhnya
Semua berlaku didalam kepala
kepala yang sama yang kugunakan untuk
meniup semilir ke dalam isi kepalamu
Tangerang, 2013
tak punya takut kepada Yang Maha Memiliki Takut
Boleh dibilang aku tak tau malu
tak tau malu kepada Yang Maha Pemberi Malu
Penantang yang tak kenal siapa yang ia tantang
maka itu congaklah aku berjalan di bumi yang milik-Nya ini
Penentang yang tak pikir siapa yang ia tentang
Oleh itu pongahlah aku merusak sekitar beserta diriku sendiri
Tak berbekal apapun, namun berlagak seolah-olah
punya sembilan nyawa. Yang satu pun berkat meminta
Nekat? Tak mungkin jika tak bodoh
Bodoh? Terlampau jujur, lugu, namun itulah aku
Menantangmu dengan tidak mememdulikan-Mu
Menentangmu dengan tidak melakukan titah-Mu
Berpesta dengan makhluk yang Kau laknat
Bersetubuh dengan dosa sendiri yang pekat
Aku tak bodoh, hanya terlampau bodoh dan nekat
menunaikan dosa, namun semudah itu melakukan taubat
Berucap maaf namun sedetik dusta melumat
memohon ampun dan kemudian melakukan maksiat
Aku takut Padamu Yang Maha Memiliki Takut
Aku malu padamu Yang Maha Memiliki Malu
Maka aku mohon ampun...
Mohon jangan jadikan aku si bodoh yang nekat...
Tangerang, 2013
"Cita-citaaaku..ingin menjadi dokteeeer.."
Kalian yang lahir tahun 90-an pasti tau penggalan lagu tersebut, yap lagunya Susan feat. teteh Ria Ernes - Cita-citaku *kalo gak salah*. Dalam lagu itu kentara banget yah cita-cita standar anak-anak Indonesia, yap betul pengen jadi dokter. Termasuk cita cita gua juga sih sewaktu kecil lha, eh bener gua pengen jadi dokter tapi setelah tau dokter itu harus akrab sama darah, gua sebagai anak yang cinta damai sama anti pertumpahan darah mengurungkan niat tersebut. *tepuk tangan*
Oke kita lupakan cita-cita gua sewaktu kecil bersama alesan konyol kenapa cita-cita itu gak terwujud.
Ngomongin cita-cita *yaelah serius nih*, kalian pasti punya cita-cita dong sewaktu kecil. Yang gua tanyakan, apakah sekarang kalian masih setia dengan cita-cita yang sama? Apakah kalian sekarang berhasil mewujudkan cita-cita kalian yaah paling enggak sedikit? Apakah kalian masih berpikir cita-cita itu bisa untuk diwujudkan?. Nah gua disini diciptakan untuk menjawab semua kegalauan tersebut.
Kebanyakan cita-cita kalian sekarang dengan sewaktu kecil berbeda *iya kan? Ngaku aja lu*. Gak apa2 itu boleh, wajar dan lumrah terjadi di era galau seperti sekarang ini.
"Kenapa sih demikian Dika?" Okeh manis sebentar tak jelasin.
Menurut penelitian masa kanak-kanak terutama masa Balita adalah masa emas anak *entah siapa yang meneliti tapi, akur dah*. Kebanyakan cita-cita itu terbentuk pada masa ini nih sob, dimana otak elu2 pada berkembang dalam kecepatan yang luar biasa. Gak semua sih tapi rata rata sih iya, kalo kamu? Oke jadi otak balita ini mulai memvisualisasikan apa yang mungkin terjadi di masa depan, apa yang akan terjadi dengan lingkungannya terutama apa yang akan terjadi dirinya. Nah kemungkinan2 ini yang kemudian di olah oleh otak menjadi suatu obsesi yang akhirnya jadi cita-cita sob. *ini sih gua aja yang sotoy*
Orang jawa malah lebih serius menyikapi ini. Hal ini terlihat dari adat ritual tedhak siten alias turun tanah bagi anak yang berusia 7 lapan. *Hmm 7 lapan itu...bentar bentar tak tanya mbah gugel sek..1..2..3... Oh 7 lapan ki 7 X 35 hari. Itung sendiri dah tuh*. Singkatnya sih anak sekecil itu (berkelahi dengan waktu) dimasukkan nih kedalam sangkar ayam *iya sangkar ayam beneran lho*, tapi yang udah dihias apik kae terus didalemnya itu ada barang-barang mainan, perhiasan, makanan, rokok, topi miring, kulkas, tv.. *oke mulai ngawur* yang kemudian si bayi dibebaskan tuh pilih yang mana aja *semoga gak milih rokok sama topi miring* yang nantinya konon bakal jadi bidang pekerjaannya. Nah yang jadi perhatian gua gimana misalnya anak laki-laki tapi milih lipstik, maskara, sanggul, bedak, beha dll??. Tapi gua berpikir positif mungkin dia bakal jadi sales barang-barang itu -____-
Namun sekali lagi cita-cita tinggal cita-cita. Kebanyakan setelah mengarungi hidup yang tak mulus ini mereka dipaksa untuk sadar diri dengan kemampuan yang ada yang membuat mereka merubah cita-cita mereka. Contoh singkatnya, "Sewaktu kecil anak laki-laki senang bermain mobil-mobilan, anak perempuan senang main boneka-bonekaan. Setelah dewasa kesenangan mereka, mereka barter. if you know what i mean...
Tapi ada juga yang konsisten mewujudkan mimpi besarnya. Cuma mereka yang punya Rigid Soul Alias Jiwa Yang kuat yang mungkin melakukan ini. Walaupun enggak semuanya terwujud kadang hanya sampai tengah kadang seperempat. Tapi janji alloh tak pernah PHP. Setiap usaha pasti ada bekasnya. Gimana dengan kalian sudah mewujudkan mimpi/cita-cita kalian?
"Yak wanita unyu sekseh disana!, iya mbak. Bukan! Mbak sebelahnya. Yak..kasih mic-nya ke mbak belakangnya..makasih.."
"Saya wanita umur 22 tahun, kenapa yah masih jomblo?" oke next -_- pertanyaan yang bener kek..
"Saya laki-laki 25tahun, kenapa vitali..." stop! Stop ini pertanyaan apa??
Oke gak ada pertanyaan yang bener jadi saya lanjutkan. Kita masuk ke bahasan ke-3. Menurut lagu yang saya ciptakan, "Hidup berawal dari mimpi" *gak boleh protes* bahwa segala sesuatu itu gak ada yang gak mungkin. Otak kita udah berpikiran itu mungkin terjadi maka atas ijin alloh gak ada yang gak bisa terwujud. Iyain ajalah... Gak ada yang benar-benar gak mungkin jika otak kita aja udah bilang mungkin tinggal niat, usaha, tekad, dan doa aja insyaalloh terkabul. Semua bilang apa.... Aamiin..
Saya rasa sekian yah. Pesan gua sih perjuangkan terus cita-citamu, sampai kamu dapat. Dan kalo gak dapat jangan nangis, masih boleh kok ganti cita-cita.
Dan ingat lakukan apa yang menurut anda benar untuk diakukan. Jika menurut anda dalam tulisan saya ini ada yang benar maka tak ada salahnya toh untuk dilakukan? Walaupun keliatannya emang gak ada sih..
Oke sekian dan terima kecup...
-Dika
Datanglah ke rumahku,
Tanyakan penghuni lainnya,
Dimana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tau rumahku,
Datanglah ke sahabatku,
Tanyakan dimana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tau siapa sahabatku,
Datanglah ke teman-temanku,
Tanyakan dimana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa teman-temanku,
Datanglah ke musuhku,
Tanyakan dimana aku dimakamkan.
Dia pasti tau karena dialah yang paling mengharapkan kematianku.
Kalau kau tidak tau siapa musuhku,
Datanglah ke tempat terakhir kali kita bertemu,
Disana, jauh sebelum aku mati,
Aku sudah memakamkan diriku sendiri di depanmu.
Tanpa sepengetahuanmu...
-Soyidiyos
Semakin akrab dengan jarak, semakin asing dengan peluk.
Peluk ku tak sehangat selimutmu, tapi lebih lebar dari ranjangmu.
Ranjangmu panggung sandiwara, tempat senduwara mencapai muara.
Muara bibirku kering oleh bibirmu yang terik. Aku dahaga mengisi gelas dengan rinduku sendiri.
Sendiri aku menyambangi mimpimu, nekat benar aku seolah-olah sudah berada disana lebih dari setahun.
Setahun belum kita bersama. Tapi kau lupa, kita seTuhan sedari kecil.
Kecil mungil jejak kaki mu, menuntun aku ke tubuhmu yang riuh.
Riuh otakku -- Sedang ada pesta riahkan dirimu semalam suntuk.
Suntuk aku dengan gaduh bibir mencu. Suntik aku dengan bibir penuh gincu.
Gincu merah mu tak buat goyang semu merah jambu pipimu.
Pipimu landasan tempat mendarat mulusnya kecup pesawat tempurku.
Tempur!! egoku melawan egomu. Siapa pun yang menang, Kita yang kalah.
Kalah aku dalam dekap pelukmu, menyerah aku ditiban jutaan rindu.
Rindu yang tak terserap, kangen yang semakin kerap.
Kerap ku berperan sebagai angin kecil, semilir yang bergerilya menyusuri lembah rambutmu.
Rambutmu tempat penyair bermain sajak, tempat penyajak bercumbu syair.
Syair ku kaku, beku diterjang badai salju diammu.
Diammu baru emas jika diiringi gumamnya bibirku.
Bibirku melihat mu tajam, matamu tersenyum manis sekali.
Sekali kali aku ingin bertandang ke mimpimu. "Katamu disana sangat gaduh?" -- oleh suara kita yang mengaduh.
Mengaduh aku dalam rame, rame yang sepi semestinya.
Semestinya aku, semestanya kamu.
Kamu yang terjabarkan dalam lidah, yang terangkum dalam mata.
Mata kau tutup, saat itu harap ku titip.
Titip salam buat aku di mimpimu.
Tangerang, 2013
---------------------*--------------------
Catatan : Puisi yang saling bertautan tiap barisnya. Secarik puisi yang belum terlalu lama di tahun 2013, tahun dimana saya mulai galak menulis sajak. Masih meraba terlihat dari kata yang hiperbola. Namun, saya harap tuan puan dapat menikmati tanpa mengesampingkan rasa.


- Follow Me on Twitter!
- "Add Me on Facebook!
- RSS
Contact